KARAKTERISTIK SUMBER AIR RUMAH TANGGA DAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA

Penulis

Kata Kunci:

Balita, Diare, Kualitas Air, Sumber Air, Air Rumah Tangga

Abstrak

Latar Belakang: Diare pada balita masih menjadi masalah kesehatan masyarakat karena dapat menyebabkan dehidrasi, gangguan pertumbuhan, serta meningkatkan kebutuhan pelayanan kesehatan. Salah satu jalur penularan utama diare adalah fekal-oral melalui air yang terkontaminasi. Keamanan air rumah tangga tidak hanya dipengaruhi oleh jenis sumber air, tetapi juga karakteristik fisik air, perlindungan sumber, serta kedekatan sumber air dengan sumber pencemaran. Penilaian komponen tersebut secara terpisah diperlukan agar faktor lingkungan yang paling berisiko dapat diidentifikasi secara lebih spesifik. Tujuan: Menganalisis karakteristik sumber air rumah tangga yang berhubungan dengan kejadian diare pada balita. Metode: Penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional dilaksanakan di Kecamatan Metro Kibang, Kabupaten Lampung Timur, pada Februari 2026. Sebanyak 184 balita usia 0-59 bulan dianalisis. Kejadian diare ditentukan berdasarkan riwayat buang air besar cair atau sangat lembek ≥3 kali sehari dalam dua minggu terakhir. Karakteristik sumber air yang dianalisis meliputi jenis sumber air, warna, bau, rasa, jarak sumber air dengan jamban, serta perlindungan atau penutupan sumber air. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur. Analisis dilakukan secara univariat untuk menggambarkan distribusi karakteristik responden dan secara bivariat menggunakan uji Chi-square. Besarnya asosiasi dinyatakan dengan odds ratio (OR) dan 95% confidence interval (CI), dengan tingkat kemaknaan p<0,05. Hasil: Sebanyak 69 dari 184 balita (37,5%) mengalami diare. Proporsi diare tertinggi ditemukan pada rumah tangga yang menggunakan sumur gali (60,9%), diikuti PDAM (43,8%), air isi ulang (37,3%), dan sumur bor (25,8%); jenis sumber air berhubungan bermakna dengan kejadian diare (p=0,023). Air berbau meningkatkan odds diare 2,53 kali (95%CI 1,20-5,30; p=0,021), sedangkan air berasa meningkatkan odds 2,69 kali (95%CI 1,33-5,48; p=0,009). Jarak sumber air dengan jamban <10 meter berhubungan dengan peningkatan odds diare 2,40 kali (95%CI 1,22-4,72; p=0,016), dan sumber air yang tidak terlindungi atau tidak tertutup meningkatkan odds 2,44 kali (95%CI 1,26-4,72; p=0,012). Warna air tidak menunjukkan hubungan bermakna dengan kejadian diare (p=0,377). Kesimpulan: Karakteristik sumber air rumah tangga berhubungan dengan kejadian diare pada balita, terutama jenis sumber air, bau, rasa, jarak sumber air dari jamban, dan perlindungan sumber. Sumur gali menunjukkan proporsi diare tertinggi, sedangkan indikator warna air saja tidak cukup untuk menggambarkan keamanan air. Saran: Pencegahan diare perlu disertai pemantauan keamanan sumber air rumah tangga, perlindungan sumber dari kontaminasi, dan pemenuhan jarak aman dari jamban. Penelitian selanjutnya perlu menambahkan pemeriksaan mikrobiologis air serta analisis multivariat untuk memastikan kontribusi independen setiap karakteristik sumber air.

 

Kata Kunci: Balita, Diare, Kualitas Air, Sumber Air, Air Rumah Tangga

Referensi

Unduhan

Diterbitkan

2026-06-22